Fospor Putih: Duka Keluarga Palestina

Duka_Keluarga_Palestina

Tiga bulan telah berlalu. Bagi kebanyakan orang, perang Gaza telah pupus dari ingatan. Tetapi tidak bagi Sabah. Setiap pekan, wanita ini harus menjalani fisioterapi dan pengobatan rutin di rumah sakit Syiba. Fospor putih israel telah membakar tubuhnya.
“Aku mengalami luka bakar dari kepala hingga tumit kaki. Wajahku, kedua tungkaiku dan punggungku juga terbakar,” papar Sabah. “Aku belum pulih. Kedua lenganku kaku, bahkan aku tidak mampu mengangkat secangkir teh. Hidupku tidak akan lagi seperti dulu,” keluhnya.

Sabah dan keluarganya tinggal di sebuah perkampungan di utara Gaza yang berbatasan dengan israel. “Kami memiliki sebuah rumah. Di sanalah suamiku dan putera-puteriku hidup dengan tenang. Waktu itu, aku adalah seorang ibu rumah tangga yang paling bahagia sedunia. Keluarga kami berjumlah 16 orang. Mereka semua tinggal di rumah itu dengan tenang,” kenangnya.

Fospor_Putih

Tetapi lalu semua kebahagiaan itu musnah dalam sekejap mata. Tentara israel memasuki desa mereka dengan mengenakan pelindung dari fospor putih. “Awalnya aku melihat mereka menembakkan fospor putih dekat lahan pertanian warga. Aku dapat melihatnya dengan jelas dari balkon rumahku. Puteri bungsuku mengira tentara israel sedang berpesta kembang api. Lima puluh menit kemudian, mereka mulai beranjak ke rumah-rumah warga dan menembakkan fospor putih hingga asap tebal itu mulai membunuh dan membakar apapun yang ada di sekitarnya,” paparnya.

Fospor putih itu merenggut nyawa suaminya dan empat putera-puterinya, termasuk Syahid, puteri bungsunya itu yang baru berusia 15 bulan. Dua puteranya yang lain, Yusuf dan Ali berhasil menyelamatkan diri. “Kami semua menangis. Kami berusaha menyelamatkan ayahku tetapi gagal,” kata Yusuf. Umar, putera Sabah yang lain, terpaksa putus sekolah. “Kami semua kehilangan ayah. Kini, kami bergantung pada saudaraku yang bekerja dengan penghasilan yang sangat tidak memadai,” papar Umar. “Aku tidak bisa lagi membuka buku sekolahku karena apa yang telah kusaksikan. Ayahku meninggal di depan mataku,” kenang Umar. “Dulu, sepulang sekolah aku selalu bergurau dengan adik dan ayahku. Tetapi sekarang tidak ada seorangpun yang dapat aku ajak bicara. Aku berusaha menghibur ibuku, tetapi beliau tidak bisa lagi tersenyum,” keluhnya sedih. “Semuanya telah berubah,” kata Sabah. “Aku tidak tahu lagi ke mana harus melangkah. Rumah kami dihancurkan, suamiku dibunuh, putera-puteriku dibantai. Semua kebahagiaan itu telah hilang. Aku berduka,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

(aljazeera.net)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.