Setiap Orang israel Sepakat: Perang Gaza adalah Sebuah Kegagalan

Saat ini setiap orang israel berada dalam sebuah konsensus: Perang di Gaza adalah sebuah kegagalan. Kalangan sayap kiri israel mengatakan bahwa perang itu “seharusnya tidak pernah dimulai” dan sayap kanan israel mengatakan bahwa perang itu “seharusnya berlangsung lebih lama.” Tetapi mereka semua sepakat, “Perang di Gaza adalah sebuah kekeliruan.”
Tentu saja kekeliruan tersebut sama seriusnya seperti perang sebelumnya di Lebanon. Tetapi karena orang israel lebih banyak membunuh dibanding yang terbunuh, lebih banyak membuat kerusakan dibanding mengalami kerugian, mereka menganggap tidak perlu adanya investigasi atas perang tersebut.
Perang Gaza memang sebuah kesalahan besar israel. Tidak ada kemajuan apapun yang diperolehnya. Tidak satupun tujuan mereka tercapai. Serangan roket kelompok pejuang Palestina tidak dapat dihentikan. Hamas tidak dapat dihancurkan. Kopral israel yang diculik, Gilad Shalit, tidak dapat dibebaskan. Fakta-fakta inilah yang membawa orang-orang israel pada kesimpulan ini.
Bahkan sebaliknya, mereka harus membayar perang Gaza dengan harga yang sangat mahal: Pamor Hamas menguat dan kebencian rakyat Palestina memuncak. Opini masyarakat dunia juga semakin memojokkan israel dengan menyebut komunitas Zionis ini dengan sebutan, “komunitas yang tidak lebih baik dari buah paria.”
Semua kalangan di israel saling menyalahkan dan berlepas tangan, baik kaum politisi yang memulai perang maupun komandan-komandan militer yang beraksi di lapangan.
Lagi-lagi gejala déjà vu menyerang kaum Zionis. Apa yang mereka alami dalam perang Gaza persis seperti apa yang mereka alami dalam perang Lebanon. Kritik-kritik tajam warga israel atas dua perang ini deras mengalir, nyaris sesaat setelah perang-perang tersebut berakhir. Bagi israel, kini Hamas yang sunni “sama angkernya” seperti Hizbullah yang syiah.
Namun demikian, tanpa menunjukkan rasa penyesalan dan bersalah, para pejabat israel mengakui bahwa koor perang yang mereka nyanyikan telah berantakan. Suatu ketika ditanyakan kepada mereka, “mengapa perang itu dikatakan berantakan?” Mereka menjawab, “Karena kita tidak berhasil membantai lebih banyak orang,” jelasnya. “Sekiranya saja kita bisa membantai lebih banyak dari 200 anak-anak atau 500 wanita, tentu saja kita bisa dikatakan menang,” paparnya.
Gideon Levy, seorang kritikus perang israel, berkata bahwa tidak satupun dari para pejabat israel itu yang bisa memastikan apa yang akan terjadi bila perang dilanjutkan. Ia bertanya, “Adakah kepastian bila perang dilanjutkan, kopral Shalit bisa dibebaskan? Akankah Hamas menyerah dan mengibarkan bendera putih? Akankah rakyat Palestina memberikan tanah airnya pada Zionis?”
Kini, israel tengah mempersiapkan perang baru: Gaza, Libanon atau Iran. Seperti yang selalu terjadi sebelumnya, kaum pemandu sorak di kalangan media israel siap-siap memprovokasi perang.
(haaretz.com)
29 Maret 2009 pada 03:42
nice article!
boleh kami copy artikel ini utk dipublished ke weblog kami di http://www.asysyifausakti.co.cc?
semoga diizinkan…
23 September 2009 pada 10:03
tp knp israel ngebom ngawur geto….
????????
23 Desember 2009 pada 04:54
GAZA, JANGAN PERNAH MENYERAH, DUNIA TAU KAU TAK PERNAH BERSALAH !! DUNIA MENUDKUNGMU!!!
16 April 2010 pada 03:55
SESUAI AL-QUR’AN DAN HADIST PERANG TERSEBUT AKAN BERLANGSUNG TERUS TAK ADA KEMENANGAN BUAT ZIONIS ISRAEL.
5 Juli 2010 pada 05:40
Ya…Rabb… Aku mohon ampun atas apa yang telah dilakukan oleh orang sebelum aku (para shahabat Rasul dan para syuhada)…
Dan aku berlepas diri dari apa yang telah mereka perbuat (orang munafik, orang kafir, penguasa dzolim, dll… )